12 October 2009

Malas Update Blog?

huuupppffff.....
lebih dari 2 bulan lamanya nyaris tidak menuliskan apa2 di blog ini.

Sibuk?? Ngga juga!

Ngga ada ide?? Buaannyaakkk!!

Lalu kenapa....???

Malas?? IYA!!!

Penyakitlamamulaikumatlagi........ hehee....

Well, Agar halaman ini tidak protes dan supaya tidak meminta pertanggungjawaban di akhirat kelak karena lama tidak saya sentuh, maka hari ini saya paksakan untuk menulis.

Sekalian mau bilang kalo TEMAN HIDUP saya (komputer pinjaman dari kantor:red) sedang menjalani perawatan di klinik khusus. Ada sedikit gangguan pada bagian vital sehingga tidak bisa On meskipun telah ditekan berkali-kali pada bagian tertentu (Baca : tombol power). Mudah2an bisa pulih kembali dalam waktu yang tidak terlalu lama, dan dapat kembali mencerahkan hari-hari saya seperti sediakala. (ngetik sambil ketawa geli).

Buat mas-mas dan mbak-mbak yg cape' saya "gangguin" dengan atau tanpa izin, saya mohon mangap dan tengkyu bertubi-tubi ...

Sebenarnya, saya juga cape' jadi parasit dari kompi yang satu ke kompi yang lain..... Tapi tetap SEMANGAT 45 aja pokoknya mah..... Hehehee.....

****

BTW, ini udah termasuk Update blog belum yakk..??? :D

PS. Untungnya hari ini nyadar kalo laptop adik sempat dititipin ke saya sebelum mereka berlibur. Even tasnya warna pink, bodo amat ahhh....... yg penting bisa kerja (online). hwehwe...

03 August 2009

Bayang-bayang



Berawal dari diskusi –kalau tidak boleh dibilang curhat- bersama kedua adik perempuan saya dalam satu kamar berukuran mini di lantai dua siang itu, tiba-tiba saya tersadar telah kehilangan sesuatu pada kurun waktu tidak kurang dari 3 tahun terakhir. Bukan materi yang hilang tapi sesuatu yang selalu setia menemani saya hingga beranjak dewasa, bayang-bayang.

Hingga usia 19 tahun itu saya selalu mendapatinya membuntutiku kemanapun saya pergi, tanpa saya minta. Ketika berjalan sendiri diteriknya hari, dialah kawan yang setia menemani. Betapa setianya ia, meski keberadaannya tidak selalu dianggap. Tapi bagi saya, ia adalah sahabat yang mampu menunjukkan jalan ketika kehilangan arah. Memang tidak banyak yang mampu ia beri, hanya Timur dan Barat. Tapi dengan itu, saya mampu menemukan Utara dan Selatan.

Saat menginjak usia 20 tahun, saya yang telah terjun ke dunia birokrasi sebagai bentuk pertanggungjawaban atas janji yang dulu telah saya ikrarkan sebelum disekolahkan oleh negara ”Siap untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dan bersedia untuk ditempatkan di seluruh wilayah NKRI”, perlahan dan tanpa saya sadari telah kehilangannya. Padatnya lalu lintas ibu kota memaksa saya harus meninggalkan rumah sebelum sang mentari menampakkan senyumnya di pagi hari, dan kembali saat malam mulai larut, lama setelah ia kembali ke peraduannya.

Ternyata dalam pencarian atas sebongkah berlian, (maaf, tanpa mengurangi rasa hormat, ”mencari sesuap nasi” saya kira terlalu sederhana bagi seorang Pemimpi seperti saya), harus dibayar mahal dengan hilangnya bayang-bayang setia. Dan tiada yang bisa saya lakukan selain mengikhlaskannya.

Sebagai bentuk penghargaan atas kesetiannya, ingin rasanya saya menjelma menjadi bayang-bayang seperti dirinya. Sesuatu yang abstrak, sederhana tapi bernilai, setidaknya mampu membisikkan arah Timur dan Barat bagi orang-orang di sekitar. Namun tampaknya, belum semua bisa menerima hadirnya. Tatkala sebagian selalu menanti-nanti bisikan-bisikannya yang mengalun merdu, karena memang hanya itu yang ia mampu. Sebagian yang lain memberikan penolakan dengan caranya masing-masing. Dan tidak jarang yang menganggapnya bayangan yang amat mengerikan. Biarlah. Tak mengapa. Semoga saja penolakannya sebagai bukti kepemilikan compass yang sudah barang tentu jauh lebih baik.

Terima kasih yang tak terhingga untuk mereka yang bersedia menerima meski dengan segala keterbatasannya. Dan bagi yang belum mampu memberikan ruang bagi bayang-bayang, saya hanya ingin mengatakan : Meski seringkali bayangan lebih panjang dari wujud sejatinya, ia tetaplah semu, tak dapat diraba apalagi dirasa. Namun sadarkah Engkau akan kesetiaannya....??? Ia akan dan selalu hadir sepanjang siang, dan baru akan meninggalkanmu dikala malam datang berhiaskan bintang dan rembulan. Jikalah engkau merindu di gelapnya malam, nyalakan pendar lentera dan kembali ia kan hadir memelukmu erat, perlahan, menghangatkan.
***
Untuk adikku terkasih yang hari ini berbahagia di 22 tahunnya,
selamat hari lahir ya dinda......
yuuukk sama-sama kita mengejar mimpi...
kalau kakakmu baru berani bermimpi sebatas bayang-bayang,
maka giliranmu memimpikan Matahari.

Regards.

FAISAL FIRMAN

04 July 2009

Titip Rindu Buat Ayah

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia....

Titip Rindu Buat Ayah, by Ebiet G. Ade

Selamat Milad ya Yah.... :)
hari ini 3 Juli 2009, Its mean tahun depan ayah sudah purna bhakti....
Jangan pernah khawatir, kami anak-anakmu berjanji akan melanjutkan perjuanganmu untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.... Doakan kami....

Salam rindu,
FAISAL FIRMAN
MULYATI FIRMAN
NURHAYATI FIRMAN

27 June 2009

Melihat Yang Tak Terlihat

Hari Sabtu dan Minggu kemarin adalah akhir pekan yang benar-benar istimewa bagi saya. Betapa tidak, akhir pekan yang seringnya saya habiskan untuk ”bermain” ke rumah kost kedua adik perempuan saya di sekitar Bintaro sana, atau sekedar tidur-tiduran dan nonton TV di kamar, kali ini amatlah berbeda. Saya tidak mengatakan bahwa diakhir pekan sebelum-sebelumnya tidak ada hal menarik. Akan tetapi kesempatan menikmati liburan bagi saya kali ini sungguh lain dari biasanya.

Hal istimewa yang pertama adalah salah seorang teman sekelas semasa menempuh pendidikan-gratis di Jurangmangu, yang juga kebetulan diangkat sebagai abdi negara pada Direktorat yang sama dengan saya, mendapat giliran untuk lebih dulu menyempurnakan separuh Dien-nya (Baca: melepas status single-nya, dan Insyaallah sebentar lagi akan kehilangan keperjakaannya.... hehehe... peace....). Saya dan kawan-kawan yang lain bahkan mendapat kehormatan untuk ikut mengiringi keberangkatan Sang mempelai pria ke Singgasana wanita yang sebentar lagi akan menjadi belahan hatinya di Love the Earth City, Kota Sukabumi. Benarlah kata orang bahwa masa yang paling indah adalah masa-masa di SMA. Kuat dugaan, karena tidak rela kehilangan masa-masa indahnya itu, teman saya akhirnya menjatuhkan pilihannya pada seorang mojang Sukabumi, teman SMA-nya.

Saya dan beberapa teman mengikuti prosesi akad nikah. Acaranya diawali dengan penyambutan oleh Pihak mempelai wanita. Pada bagian ini, ada sedikit kendala yang cukup berarti. Ya, kemampuan berbahasa saya sedang diuji. Saya yang seorang pemuda berdarah bugis asli yang lahir dan dibesarkan di Tanah Celebes, dengan tangan terbuka harus mengakui satu lagi keterbatasan saya, selain kekurangan-kekurangan yang lain tentu saja. Saya betul-betul tidak faham nasihat pernikahan yang disampaikan dalam Bahasa Sunda, dan hanya mampu menerka-nerka apa maksud setiap kalimat yang dilontarkan oleh pihak keluarga. Hanya beberapa kosakata yang agak familiar di telinga saya, itu pun saya tidak tahu persis artinya apa. Salah satunya adalah kata PRESTO. Entah mengapa, mendengar kata itu sontak para tamu yang hadir tertawa lepas. Sedangkan yang muncul difikiran saya seketika adalah oleh-oleh khas Kota Semarang, Bandeng Presto. Tidak tahu mengapa kalo soal makanan otak saya dapat bekerja begitu cepat, mungkin bisa melebihi kecepatan cahaya, E = MC2. Tidak sebanding dengan kemampuan linguistik yang nyaris membuat saya gagap komunikasi hari itu.

Meski demikian, saya tidak mau terlalu memusingkan hal itu. Seolah tak mau dianggap kalah, jemariku semakin liar menekan tombol kecil di sisi kanan atas kamera digital pinjaman berwarna hitam yang sedari tadi saya genggam untuk mengabadikan setiap momen berharga. Dengan santai saya melenggang kesana-kemari mencari angel yang tepat bak fotografer profesional, padahal sejatinya saya sangat awam dengan dunia photography yang sedang in saat ini.

Untungnya pada saat ijab kabul, keadan menjadi jauh lebih baik. Semangat Nasionalisme para Wali dan saksi akhinya bangkit. Mereka sadar atas peristiwa bersejarah 28 Oktober 1928 silam, bahwa putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Maka ijab kabul akhirnya diikrarkan dengan bahasa Sunda Indonesia. Saya pun akhirnya terlarut dalam suasana, menjadi saksi pernikahan mereka, menuju mitsaqon gholizaa.

”Saya nikahkan bla bla bla..... dibayar TUNAI”, lalu dijawab oleh Sahabat saya yang sedang berbahagia itu, ”Saya terima nikahnya bla bla bla dibayar KONTAN”. Saya tidak tahu apakah adat di daerah sana memang seperti itu. Tapi tiba-tiba saya jadi ingin tertawa, kok bisa-bisanya dari tunai menjadi kontan, padahal saya tahu benar didepannya ada kertas contekan berukuran mini, serupa dengan kertas contekan anak-anak SMP dulu –tapi tidak termasuk saya, hehe-. Well, mungkin yang tertulis memang seperti itu, atau mungkin juga karena Sahabat saya sedang grogi stadium akhir. Masih untung KONTAN, bukan KREDIT. yang penting sah, itu aja!

Barakallahu laka wabaraka alaika wajam’a baina kumaa fii khoir.....

Saat yang dinanti-nantikan oleh sebagian tamu –khususnya saya- akhirnya tiba. Guess what??? Makan!!! Kami dipersilahkan menikmati hidangan yang tersedia. Saya dan kawan-kawan lain berbaris dengan rapi menunggu giliran mengambil nasi beserta lauknya. Menu istimewa untuk ukuran anak kost seperti saya, yang sangat kegirangan ketika mendapat kesempatan menikmati hal-hal yang berbau gratisan. Begitu nikmat rasanya. Tiba-tiba salah seorang teman yang duduk bersebelahan tertawa ke arah saya, lalu menoleh seolah memberi petunjuk untuk menyaksikan apa yang sedang ia lihat. Seorang ibu paruh baya dengan pakaian sangat sederhana sedang duduk manis memegang piring yang isinya menggunung. Hampir tiga kali lebih banyak dari lauk yang saat ini ada dipiring saya. Saya pun akhirnya tidak bisa menahan tawa.

Karena rasa penasaran yang kian tak tertahan, saya terus saja mencuri pandang ke arah ibu tadi. Dia tampak biasa saja, tanpa rasa canggung sedikit pun. Lalu kemudian ia mengeluarkan kantong plastik dari saku bajunya. Dalam hitungan detik, semua lauk yang ada dipiringnya sudah berpindah ke dalam kantong plastik. Deg! Makanan yang sedari tadi saya nikmati tiba-tiba menjadi hambar. Mulut seolah enggan lagi mengunyah. Tenggorokan saya berubah menjadi pahit. Candaan kawan-kawan lain pun saya abaikan.

Saya jadi marah pada diri saya karena telah ikut menertawakannya. Kenapa awalnya saya tidak berusaha berfikir positif terhadapnya. Maafkan saya Bu. Saya salah. Saya sangat yakin ibu rela membuang malu untuk sebuah hal yang baik. Ibu bahkan seolah tidak mau peduli pada orang-orang yang sejak awal memandangi yang seakan-akan menghakimi. Semua itu ia lakukan karena ibu itu punya cinta yang luar biasa terhadap orang-orang di sekitarnya, yang mungkin tidak dimiliki oleh semua orang, mungkin juga saya. Sering ketika saya menikmati makanan enak di restoran ibu kota, jangankan berniat untuk membawa pulang bahkan mengingat orang-orang yang saya sayangi pun tidak. Saya lebih memikirkan diri saya, dan melupakan orang-orang yang saya tinggalkan di rumah. Sedangkan ibu itu? Semua ia lakukan demi cintanya terhadap kekasih-kekasihnya... Cintanya memang seluas samudera.... dan saya telah malu dibuatnya...

Saya tidak membenarkan perbuatan mengambil sesuatu milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya apapun alasannya, termasuk alasan ”cinta”. Adalah benar bahwa sudah seharusnya kita memikirkan orang lain, tetapi bukan berarti segala cara dihalalkan. Saya pun tidak mengatakan bahwa perbuatan ibu itu salah karena boleh jadi ia telah mendapatkan izin dari pemiliknya tanpa saya ketahui. Hanya saja mungkin akan lebih baik jika dilakukan dengan cara yang ahsan.

- o0o -

Setelah berfoto bersama kedua mempelai, kami mohon pamit untuk kembali ke Jakarta. Namun sebelum pulang, kembali kami beristirahat di Hotel berbintang tujuh-nya kang Indra yang telah dengan ikhlas menampung kami sejak sehari sebelumnya. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan seperti ini. Bayangkan, kami menginap, makan, mandi, tidur, ngemil, ngejus, dan lain-lain sesuka hati tanpa dipungut biaya sepeser pun... belum termasuk ”bonus” hiburan gratis oleh polah buah hatinya ”shahira” yang lucu dan menggemaskan itu. Terima kasih telah bersedia menerima kedatangan kami yang tanpa mohon izin lebih dulu ya Kang... Sekalian mohon maaf karena telah ”merampas” hak akhir pekannya Si dede dan Bundanya.... hehe... Nuhun pisan yeuh Kang..... Tunggu kehadiran kami selanjutnya....

18 June 2009

Retak

Retak kaca itu
Katanya

Aku hanya mampu ternganga
dibuatnya

Dahulu
Kaca itu berbingkai rapi
Cenderung istimewa kala itu

Retina-retina nakal
seolah tak kuasa
mengintipnya malu-malu

..........
Beda dengan milikku
Kaca-kaca usang
Dengan bingkai sederhana
Biarlah

Akan ku jaga
Hingga pagi

02 June 2009

Cintai atau Tinggalkan...!!!

Hidup adalah pilihan
Memilih untuk tak memilih pun adalah sebuah pilihan
Tatkala waktu tak jua memberi ruang pilih memilih
Maka pilihan terbijak adalah menikmati pilihan-Nya...

Sering ada rasa bimbang untuk menjatuhkan satu pilihan. Alasannya bermacam-macam, dan tidak jarang kita jatuh pada pilihan yang mengedapankan perasaan, bukan logika. Begitu juga sebaliknya, tak ayal kita kerap memutuskan untuk menolak sesuatu berdasarkan alasan yang logis -menurut kita- tanpa mau mencoba "merasai" terlebih dahulu.


Mempertanyakan pilihan saya kira tidaklah lebih penting dari membiarkan siapa pun menikmati pilihannya. Biarkan mereka menyelami jengkal demi jengkal apa yang telah diputuskannya. Relakan ia menari di atas bahagianya.


Tiada guna menyesali apa yang telah kita dan mereka putuskan. Dulu, ketika kita memutuskan ini, mereka sama sekali tak pernah terusik dengan pilihan kita. Lantas berhak kah kita meracuni senyumnya dengan tangisan?


Saat ini, bagi saya tidak ada pilihan lain selain mengikuti irama yang telah tercipta. Irama yang telah kita ciptakan, lebih tepatnya. MENCINTAI adalah muara dari usaha pencapaian menuju bahagia yang nyata. Dan cinta itu telah dan akan terus ada.


Sapardi Djoko Damono, Seorang penyair telah mengurai kata-kata untuk saya (mungkin untuk Anda juga?), dalam "Aku Ingin" nya......


Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu
dengan cara yang sederhana
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

27 May 2009

Berita Dalam Gambar (KebunRayaBogor23052009)