Seperti biasa, malam itu Saya tiba di rumah ba'da Isya. Setelah membersihkan badan seperlunya, kusegerakan menyantap makan malam yang sudah saya beli di warung dekat rumah dalam perjalanan pulang tadi. Belum juga selesai mengahabiskan makan malam itu, kawan-kawan yang lain pun tiba. Seorang dari mereka memanggil-manggil dari balik pintu. Panggilan yg tidak biasa, fikirku.
Pintu kamar segera kubuka, Ia pun lantas bergegas masuk. Sungguh pemandangan yang lain dari biasanya. Wajahnya tidak seceria dahulu. Sendu, sekilas nampak menggelayut di sana. Ada apa gerangan?
Tidak sepatah kata yang terucap dari bibirnya. Yang ada hanya diam. Saya pun memilih melanjutkan makan malam dan sesekali melirik ke arahnya. Sembari meyaksikan berita di TV, piring dan gelas yang baru selesai dipakai Saya rapikan. Dan Ia masih tetap sama, diam.
Setelah sekian lama, akhirnya Ia memulai pembicaraan. Sebagai pendengar, tidak banyak yang bisa Saya lakukan. Hanya sesekali menyunggingkan senyum kepadanya, hingga akhirnya Ia meminta pendapat Saya.
Ternyata benar dugaan Saya. Ia sedang berada dalam gundah yang tidak pernah terduga sebelumnya. Semula yang terfikir semuanya akan baik-baik saja, ternyata dalam perjalan ia harus melalui tikungan yang terjal lagi berliku.
Sebuah realita yang cukup menguras energi. Kenyataan memang harus dihadapi meski tak selalu seperti yang kita inginkan.Yang bisa kulakukan hanyalah menguatkannya untuk tetap meneruskan langkahnya. Tidak ada pilihan lain.
***
Kawan, memilih jalan itu adalah pilihan yang berani
Dan aku tahu kamu mampu
Terima kasih telah tunjukkanku
Arah yang engkau tuju
Di situ............. :)
####
Ichal, menuju ashar 19 Januari 2011
0 comments:
Post a Comment